Malam lalu,
Ky begitu suka menengadahkan kepala, memastikan dia selalu di sana .. seperti malam-malam lalu ketika ky cukup bosan untuk merajuk pada angin. Meski tak berucap satu kata, namun binar itu yang menjanjikan kehangatan untuk ky.
Pada malam ketika ky merasa keramaian begitu sepi.
Pada malam ketika ky merasa suara hati tak lagi mudah dimengerti.
Pada malam ketika ky ingin berbagi.
Bukan tentang kisah, tapi impian, keinginan atau .. sesuatu yang hanya ky ujar dalam hati, seperti dia yang hanya bergeming di langit malam ini. Tapi malam ini, binarnya tak lagi secantik malam lalu. Kebisuannya memjadikan hati ky semakin kelu. Ky bahkan tidak yakin, apa ia mengerti ky. Apakah tiap kalimat yang ky uraikan, cukup menarik untuk ia selami??
Maka di sinilah ky. Berharap seorang yang “dewasa”, dengan akal pikiran, dengan rasa tentang kehidupan, mampu menyelami ini semua bersama ky. Bukan tentang kisah, tapi impian, keinginan atau .. sesuatu yg akan menyeruak dari dalam hati, seperti kata2 yg terpatri dalam eMail ky kali ini??
Dalam sebuah blog, Disa, seorang mahasiswi psikologi UI, menganalogikan cowok itu seperti “sampah”. Sesuatu yang pernah berguna, namun kini terpojok di sebuah pembuangan karena ketidakberharganya ia untuk dimiliki manusia (lagi). “sampah” itu akan kembali berguna, jika saja seseorang mendaur ulang.
Well, pemikiran yang sempurna, memaknai apa itu “sampah”. Tapi entah jika ’sampah’ itu dianalogikan pada cowok karena saat ini ky mengutip analogi itu untuk diri ky. Dulu ketika ky baru saja mengecap ky adalah siswi SMA, ky pernah merasakan perasaan ini. Ketika dunia begitu cepat berotasi 360 derajat, bukan 90 atau 180 derajat. Ketika ky dengan tegapnya melewati gerbang SMANSA, menjadi 1 dari 360 siswa yang lulus seleksi. Namun, 1 tahun berjalan justru semakin tenggelam dalam hiruk-pikuk mereka yang borjuis, merasa menjadi “sampah” yang hilang kegunaannya ketika pada saat di SMP, kegunaan itu banyak menjanjikan pujian. Tapi ky bangkit, dengan mungkin keyakinan yang melebihi batas kemampuan, tapi akhirnya ky mampu menjadi satu yang baik di antara yang terbaik.
Saat itu ky tau, “percaya diri” telah mendaur ulang ky menjadi sesuatu yang berguna di antara mereka yang borjuis.
Kelas 3 SMA, entah apakah dari ambisi atau percaya diri, ky menyajikan sebuah impian untuk masa depan. Lihat saja Rosiana Silalahi, Bayu Sutiyono, Najwa Shihab, Prita Laura, ChantaL Della Concetta, dan newscasters hebat lainnya. Bagaimana mereka bisa begitu mudahnya menghipnotis ky!?
Di dalam kamar kecil itu, ky merajut mimpi dari helai demi helai. Kekaguman pada mereka akhirnya membungkus cantik kemantapan hati ky yang paling dalam. Ky ingin menjadi seperti mereka, ky ingin kuliah komunikasi ***.
Cerita berputar begitu cepat. Sebuah tes ky lalui dalam masa penantian dan pengharapan yang begitu mendalam, akhirnya berbuah kegagalan. Ketika ky menatap gedung megah ***, ada suara dalam hati yang memekik “apa km bs menaklukkan dia??”
Tapi entah kenapa, saat itu ky terlena dengan 1 cerita lain, tanpa bersungguh-sunguh menyandingkan suara hati yang memekik itu dengan ambisi ky, ky justru meredamnya. Kata seseorang, saat itu ky sedang euphoria. 1 kata yg ky benci sebenarnya, seolah saat itu ky terlalu lemah untuk benar-benar mengendalikan diri ky. Ky tak acuh, ky tetap larut dalam cerita lain itu. Cerita ketika ky mencari pembuktian apakah cinta sejati itu ada.
Namun, tak jauh dari malam ini, di waktu sebelum malam ini, kata seseorang itu menggelitik hati ky. Ada suara dalam hati yang dengan angkuhnya menyatakan bahwa ia benar. Ky euforia. Ky tidak cukup pintar untuk bergulat dalam 2 cerita yg terjadi beriringan. Dan di sinilah ky, merasa gundah gulana, merasa kalah dalam 2 cerita.
Lalu di mana impian itu??
Apakah masih menelisik mencari waktu??
Atau turut kalah dlm suatu waktu di antara 2 cerita itu??
1 hal yang ky yakini. Untuk impian, keinginan, sesuatu yang ky sebut tujuan untuk hidup yang penuh pergulatan, akan menjadikan ky pantang menyerah. Akan menjadikan ky menyerah jika memang saatnya harus menyerah. Lalu, kenapa harus menjadikan impian itu kalah jika masih ada SPMB??
Ky sudah melewatinya dan kini berjibaku dengan penantian, dengan gundah gulana, meski belum yakin telah benar-benar kalah. Karena dengan perjuangan terbaik yang ky persembahkan malam-malam lalu, ky yakin, DIA telah membungkus cantik imbalan terbaik untuk ky.
Bagaimana jika imbalan itu tidak serupa dengan impian ky ??
Apakah ky cukup kuat memaknai imbalan itu dalam cerita ky agustus nanti ??
Seperti .. apakah ky bs menyematkan tokoh baru dalam cerita yg sudah begitu sempurna??
Mungkin ky tak harus menjanjikan masa depan dengan gurat cerita yang ky sendiri tentukan. Mungkin ky harus bisa menerima, bahwa DIA yang menentukan, walau kadang sesuatu yang akhirnya menjadi penentuan adalah tak serupa dengan apa yang ky sebut impian.
Ikhlas.
Jika saja mewujudkan kata itu semudah menyematkannya dalam eMail ini, ky tidak perlu menengadah pada malam-malam yang lalu atau menyisihkan waktu untuk mengirimkan eMail ini. Ky harus ikhlas apapun imbalanNya nanti dan berlapang hati jika mungkin harus menyematkan tokoh baru itu. Jika semua harus disadari tepat pada waktunya, jika “euforia” tidak menjadi bagian yg harus disesali, tidak akan ada hikmah yang menjadikan ky patut bersyukur.
1 langkah pendewasaan, 1 langkah pendewasaan maju setapak dan ini saatnya ky harus memosisikan bahwa dewasa adalah PROSES, bukan PERNYATAAN.
Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ky akan menyerah jika saatnya harus menyerah.
I wish I could.*
*** : 3 sandi untuk inisial universitasku.
*eMail yang kutulis untuk kak re**, di saat penantian panjang jelang hasil SPMB 2007 (20.07.2007).
.. gadiskecil (11:14 am) ..