gadiskecil ..

di awal pagi (05.01.08) ..

Januari 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mentari menyibakkan cahyanya yang menguning di awal pagi
Lagu itu mengias rinai senyum di hatiku
Liriknya menyeduh asa untuk turut berlari bersama waktu
Langit yang indah ketika lekat kutatap langit menenun cerah
Memburai kemilau yang redup dikungkung mendung di banyak hari lalu
Terimakasih Tuhan
Untuk satu pagi lagi kucicipi nikmatmu.

Nb:

catatan kecil usai tidur yang begitu panjang

06.58 : 05.01.08

.. gadiskecil (01.23 pm) ..

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

jaket kelabu (04.01.08) ..

Januari 5, 2008 · 1 Komentar

Aku ingin menulis.

Hanya kalimat itu yang terpatri di benakku, hingga 10 menit berikutnya aku telah nyaman merangkai kata demi kata di rental favoritku ini. Tidak peduli “panas” tubuhku yang serasa meninggi, rintik-rintik hujan yang mengguyur sepanjang hari, bahkan rasa lapar yang berusaha kuabaikan sejak tadi. Akhh..aku hanya ingin menulis. Sederhana,kan!?

Udara dingin sekali, kuputuskan untuk mengenakan jaket yang lebih tebal. Niatku beringsut dari keinginan memakai jas hujan itu demi kondisi fisikku, “Cukup pakai jaket sajalah. Toh dekat ini,”batinku.

Dan kubalut tubuhku dengan jaket ini. Jaket yang telah lama pulas tergeletak di lemariku, yaahh .. sudah lama sekali aku tak mengacuhkan jaket ini. Jemariku lebih menyukai baju-baju “manis” itu, celana-celana “ramping” itu. Tidak ada lagi jaket besar, lusuh, dan “anti kemapanan” ini. Namun, entah kenapa 10 menit lalu, aku begitu merindukan jaket ini. Jaket yang selayaknya bisa banyak bercerita ketika aku menatap bayangan tubuhku di cermin itu usai mengenakannya.

Kenangan memang tak seutuhnya berada jauh di belakang. Kadang serasa begitu dekat, seperti jendela kamar yang menyibakkan panorama luar ketika sedikit saja kita melontarkan pandang. Dan pikiranku melontarkan ingatan ke kenangan itu. Ketika jaket besar ini masih tertambat di tiap hari yang kulalui, hanya sendiri. Masa-masa SMA..

Hatiku tersipu ketika kuingat bagaimana aku yang dulu. Aku yang cuek. Tidak peduli pakaian seperti apa untuk membuat “makhluk-makhluk itu” sekedar tahu kehadiranku. Makhluk-makhluk yang dengan congkak tak pernah kusematkan dalam duniaku saat itu. Hanya ada sekolah, les, organisasi, dan dunia kecilku. Dunia maya yang menyembunyikan penatku, aku sudah pernah menceritakannya di blog ini, kan??

Akhh.. bukan jaket biasa, menurutku.

Jaket ini yang membalut cita-citaku. Dari hujan, panas, dingin, sepi, hampa, kosong, sedih, jengah, penat, bingung, yahh.. banyak nuansa ketika cobaan-cobaan mendera.

Jaket ini yang tanpa banyak isyarat berujar tentang tegar, berani, sabar, maju, berdiri, bangkit, yah.. banyak kata penghiburan ketika cobaan-cobaan menjegal.

Jaket ini yang tidak pernah alpa berada di situ. Ketika duniaku bisa indah dengan cinta, bisa lelah dengan cita-cita, bisa redup tanpa pacar, bisa sekedar tertawa untuk pilihan akhir menerima kenyataan.

Jaket ini yang menghangatkan “seseorang” dan hatiku pada satu malam yang sama, kisah yang sama.

Jaket ini layaknya topeng. Aku yang dulu.Yang rikuh, namun tampaknya angkuh.

Hhhh ..aneh sekali, ya. Hanya jaket biasa untuk menyeragamkan baju anggota ekstrakurikuler jurnalistikku, namun bisa juga menyeragamkan segepok judul cerita hidup di masa lalu. Satu tema yang sama, meskipun ada warna-warni di dalamnya. Namun, mengingat semua cerita itu, berpijak di waktu mengenakan jaket ini, aku bisa menyeragamkan temanya. Kelabu.

.. gadiskecil (01.00 pm) ..

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

kulo nuwun 2008 (04.01.08) ..

Januari 5, 2008 · 1 Komentar

Senin, 31 Desember 2007.

Malam itu langit menyunggingkan senyum. Tidak “menangis” seperti tiga hari terakhir yang berjalan, akhh .. Allah mengabulkan doaku rupanya. Sore harinya, aku menepati janjiku ke B21, untuk sekedar menyapa hangat yang ada di sana sembari mengantarkan buku-buku pesanan berjudul “seandainya saya wartawan tempo” yang ditugaskan untuk  kufotokopi. Oopps .. pelanggaran hak cipta ya, tapi buku itu “buku sakti” memang. Usai satu hari membaca tuntas isinya, aku mendapat motivasi baru untuk mantap berada di track itu, “menjadi wartawan”.

Sebelum beranjak dari kost, inbox ponselku mendapat satu pesan baru. Aku menarik senyum simpul. d’one sudah kembali, demi aku yang merengek menuntut kebersamaan kami berdua di detik-detik pergantian tahun. Kontan saja rasa itu bergemuruh, aku sangatsangat merindukan dia. Jadi kuputuskan untuk menghampiri sejenak kontrakannya, sepulang dari B21, seusai ia mengiyakan untuk menyambutku. Dan ya, senyum itu menyambutku. Senyum yang kurindukan karena 2 minggu tidak bertemu. Kangen banget. Itu saja deskripsi sepasang anak manusia yang bercengkrama tanpa harus repot-repot menyepakati tema apa di pertemuan sore yang mendung itu. Karena dalam hati kami ada satu rasa yang sama, kangen. Kangen banget.

Dan malam itu, tercapai satu mimpiku. Masih jelas dalam kotak memori di otakku, malam di tahun baru-tahun baru yang lalu, hanya ada bunga tidur. Bantal guling di kasur tidur. Atau sms-sms “selamat tahun baru” sebagai pengantar tidur. Namun, di malam tahun baru 2008, aku bisa merasakan ada d’one yang kokoh berdiri di sisiku, melingkarkan lengan kanannya di bahuku, untuk mencuri letupan-letupan kembang api yang mengawang sejenak di langit malam itu, menyematkannya dalam hati kecilku, lalu menjaga agar tidak lekang bersama waktu yang akan berlari ke depan.

Kulo nuwun 2008.

Resolusi sedang berjalan.

Hmmm .. finally, aku berpijak di saat ini.. ketika kenangan benar-benar (telah) berada jauh di belakang.

Mentari itu masih pada rupa yang sama. Bintang itu masih benderang di langit yang sama. Namun, kembang api di malam pergantian tahun kala itu, layaknya “mimpi-mimpi” baruku. Menukik, membuncah dengan sinar yang mengejora, indah, namun kemudian redup menyisakan rasa takjub yang meletup dalam hati.

Aku masuki arenamu. Masih dengan berjuta rasa yang meletup-letup dalam hati. Semangat baru untuk mimpi-mimpi abstrak yang akan aku guratkan di kanvas baru.

.. gadiskecil (12.44 pm) .. 

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

pisangmolen dan burjo di akhir 2007 (31.12.07) ..

Desember 31, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kuawali isi perutku hari ini dengan enam buah molen dan semangkuk burjo yang masih bersisa. Hari ini masih sama. Mbak Siti masih menyapaku dengan senyum merekah penuh suka cita, penghuni kost yang satu ini memang selalu riang gembira. Terkadang, aku banyak belajar darinya. Untuk hal-hal sepele, seperti “tersenyum setiap pagi”.

Mbak Diska, penghuni di sisi kanan kamarku, tengah bersenang-senang sendiri dengan tv-nya. Meski aku tidak tahu pasti apa yang sedang ia lakukan, di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, namun dengan suara tawanya yang samar kudengar, bisa kupastikan ia tengah larut pada benda kotak bergambar dan bersuara itu. Entahlah untuk apa, mungkin untuk puluhan pria yang tengah berebut menendang bola atau tingkah polah para artis ibukota.

Dan aku, damai sentosa menyapu panorama jogja pagi dari teras kamarku,di lantai dua, sembari menyibukkan lidah dengan hidangan lezat awal hari akhir 2007, pisangmolen dan burjo (bubur kacang ijo).

Masih pagi yang sama. Nampak bilur-bilur air hujan menggelayut di ujung dedaunan dan dahan pepohonan. Buah rambutan di pohon seberang pun kian menggoda mataku dengan kulitnya yang semakin memerah. Tiga hari ini, langit selalu “menangis” di malam hari. Suara derai air hujan,  bahkan tak jarang petir yang bersahut-sahutan menjadi backsound malam-malam sepiku.

Mengapa tidak ada yang berbeda?? Bukankah ini hari akhir 2007??

Aku masih belum berpaling dari panorama itu. Jogja yang indah. Jogja yang kucintai. Dan hanya usai pernyataan itu, hanya begitu saja, ingatanku liar berkelana pada masa ketika jogja masih menjadi dunia terasing di seberang pulau kediamanku, Bali.

Aku ingat cemooh Nandes, seorang sahabatku, ketika kami bersantap cemilan di food court mall bertiga, bersama Joel.

“Inget yaa, jaga diri di sana. Jaga diri. Jaga diri.”

Ia terus memberikan penekanan ketika mengaksenkan dua kata terakhir itu. Bahkan untuk yang ketiga kalinya, ia mengucapkannya seperti mengeja seraya menatapku lamat-lamat. Ia lalu berkoar tentang bagaimana diskotek-diskotek jogja yang beroprasi dengan bebasnya, para mahasiswa yang buta norma-norma ketika bercinta, akhh … saat itu aku hanya tertawa kecil menjadi pendengarnya.

“Memang apa, sih, yang akan terjadi pada gadiskecil ini, Nan??”batinku.

Sekedar tercenung di sudut diskotek saja aku belum pernah, apalagi tentang bercinta itu. Bahkan dalam khayalan terliarku di jogja, tidak pernah menyisipkan subtema “akhirnya punya pacar”. Ya, karena aku yang masih lugu itu, belum pernah terjamah dengan cerita-cerita cinta. Namun aku gadis belia biasa, punya rasa dan (terkadang) ingin dimanja pria. Bukan Ayahku, tentu. Tapi yang bisa kukisahkan pada teman-temanku selalu saja tentang bagaimana perasaanku kepada seorang cowok (lagi dan lagi) harus mengendap. Asmaraku yang memilukan. Selalu memilukan. Ketika itu.

Namun kini, aku punya d’one. He’s the one.

Dan kontan saja teman-temanku meracau ketika implisit kunyatakan “I’ve got someone that love me” di friendster. Mereka meracau dengan pernyataan-pernyataan menyayat hati seperti “akhirnya *** punya pacar”, “bilang ke dia (baca:d’one) yang sabar ngadepin kamu”, “nikmatilah cinta itu” atau .. “*** bisa pacaran juga!?!”. Yeah.. terimakasih teman-temanku!! 

Dan Nandes, kembali pada petuah itu. Di sebuah testi ia berujar “Inget ya **, pesanku dulu!?”

Jujur saja ketika itu hatiku sedikit terperanjat. Aku hampir lupa bahwa pernah ada petuah itu. Maklum, pada hari-hari itu aku sedang dimabuk cinta, tanpa sadar bahwa seorang sahabat pernah mengatakan bahwa di mabuk cinta di negeri orang, tanpa keluarga yang melegitimasi norma-norma yang mengekang, sang pacar bisa jadi black hole. Kalau saja aku memang terlalu bodoh untuk membiarkan diri terperosok.

Dan aku kemudian tergelitik dengan momen-momen yang berkelebat diingatanku. First (truly) boyfriend, first kiss, first hug .. akhh .. aku masih dalam batas-batas itu, kok. Batas yang aku dan d’one sepakati untuk dunia yang tengah kami nikmati.

Hari ini, aku berpijak di halaman terakhir buku kecilku. Buku yang banyak mematri tentang hakikat asa, dilema atas cita-cita, dan cinta yang terlunta-lunta.

“Cinta dalam hati” yang terlunta-lunta. Cinta yang menunggu.

Cinta yang dengan teguh kupertahankan selama tiga tahun lamanya, namun kemudian mengabaikan aku dengan angkuhnya. Sesak. Sesak yang terkadang masih mengganggu, masih ingin berlari mengejarnya hanya untuk memalingkan wajah angkuhnya dan melihatku. Merasakan keberadaanku. Namun, “tidak lagi” di detik ini. Ketika sebuah buku baru telah kusampul rapi dengan rentetan mimpi untuk membuka petualangan-petualangan baru. Dengan “mentari” yang lebih terik, “bintang kecil” yang lebih berpijar, dan asa yang lebih berarak.

Kuhempaskan cerita pilu 2007. Tidak dengan lambaian tangan atau salam perpisahan. Namun dengan sebuah pemahaman.

Kutinggalkan kamu. Masa lalu. ***:inisial namaku, (lagi-lagi) demi self cencorship. Ha! Ha! Ha! Nb :

Kalau kuuraikan “masa lalu” itu. Ada kamu di sana, pada cinta yang tiga tahun kupertahankan.Tapi selayaknya, cinta itu kini tak bersisa, but thanks. Thanks for being my friend.

.. gadiskecil (10.14 am) ..

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

puing 2007 part 1 (30.12.07)

Desember 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Malam lalu,

Ky begitu suka menengadahkan kepala, memastikan dia selalu di sana .. seperti malam-malam lalu ketika ky cukup bosan untuk merajuk pada angin. Meski tak berucap satu kata, namun binar itu yang menjanjikan kehangatan untuk ky.

Pada malam ketika ky merasa keramaian begitu sepi.

Pada malam ketika ky merasa suara hati tak lagi mudah dimengerti.

Pada malam ketika ky ingin berbagi.

Bukan tentang kisah, tapi impian, keinginan atau .. sesuatu yang hanya ky ujar dalam hati, seperti dia yang hanya bergeming di langit malam ini. Tapi malam ini, binarnya tak lagi secantik malam lalu. Kebisuannya memjadikan hati ky semakin kelu. Ky bahkan tidak yakin, apa ia mengerti ky. Apakah tiap kalimat yang ky uraikan, cukup menarik untuk ia selami??

Maka di sinilah ky. Berharap seorang yang “dewasa”, dengan akal pikiran, dengan rasa tentang kehidupan, mampu menyelami ini semua bersama ky. Bukan tentang kisah, tapi impian, keinginan atau .. sesuatu yg akan menyeruak dari dalam hati, seperti kata2 yg terpatri dalam eMail ky kali ini??

Dalam sebuah blog, Disa, seorang mahasiswi psikologi UI, menganalogikan cowok itu seperti “sampah”. Sesuatu yang pernah berguna, namun kini terpojok di sebuah pembuangan karena ketidakberharganya ia untuk dimiliki manusia (lagi). “sampah” itu akan kembali berguna, jika saja seseorang mendaur ulang.

Well, pemikiran yang sempurna, memaknai apa itu “sampah”. Tapi entah jika ’sampah’ itu dianalogikan pada cowok karena saat ini ky mengutip analogi itu untuk diri ky. Dulu ketika ky baru saja mengecap ky adalah siswi SMA, ky pernah merasakan perasaan ini. Ketika dunia begitu cepat berotasi 360 derajat, bukan 90 atau 180 derajat. Ketika ky dengan tegapnya melewati gerbang SMANSA, menjadi 1 dari 360 siswa yang lulus seleksi. Namun, 1 tahun berjalan justru semakin tenggelam dalam hiruk-pikuk mereka yang borjuis, merasa menjadi “sampah” yang hilang kegunaannya ketika pada saat di SMP, kegunaan itu banyak menjanjikan pujian. Tapi ky bangkit, dengan mungkin keyakinan yang melebihi batas kemampuan, tapi akhirnya ky mampu menjadi satu yang baik di antara yang terbaik.

Saat itu ky tau, “percaya diri” telah mendaur ulang ky menjadi sesuatu yang berguna di antara mereka yang borjuis.

Kelas 3 SMA, entah apakah dari ambisi atau percaya diri, ky menyajikan sebuah impian untuk masa depan. Lihat saja Rosiana Silalahi, Bayu Sutiyono, Najwa Shihab, Prita Laura, ChantaL Della Concetta, dan newscasters hebat lainnya. Bagaimana mereka bisa begitu mudahnya menghipnotis ky!?

Di dalam kamar kecil itu, ky merajut mimpi dari helai demi helai. Kekaguman pada mereka akhirnya membungkus cantik kemantapan hati ky yang paling dalam. Ky ingin menjadi seperti mereka, ky ingin kuliah komunikasi ***.

Cerita berputar begitu cepat. Sebuah tes ky lalui dalam masa penantian dan pengharapan yang begitu mendalam, akhirnya berbuah kegagalan. Ketika ky menatap gedung megah ***, ada suara dalam hati yang memekik “apa km bs menaklukkan dia??”

Tapi entah kenapa, saat itu ky terlena dengan 1 cerita lain, tanpa bersungguh-sunguh menyandingkan suara hati yang memekik itu dengan ambisi ky, ky justru meredamnya. Kata seseorang, saat itu ky sedang euphoria. 1 kata yg ky benci sebenarnya, seolah saat itu ky terlalu lemah untuk benar-benar mengendalikan diri ky. Ky tak acuh, ky tetap larut dalam cerita lain itu. Cerita ketika ky mencari pembuktian apakah cinta sejati itu ada.

Namun, tak jauh dari malam ini, di waktu sebelum malam ini, kata seseorang itu menggelitik hati ky. Ada suara dalam hati yang dengan angkuhnya menyatakan bahwa ia benar. Ky euforia. Ky tidak cukup pintar untuk bergulat dalam 2 cerita yg terjadi beriringan. Dan di sinilah ky, merasa gundah gulana, merasa kalah dalam 2 cerita.

Lalu di mana impian itu??

Apakah masih menelisik mencari waktu??

Atau turut kalah dlm suatu waktu di antara 2 cerita itu??

1 hal yang ky yakini. Untuk impian, keinginan, sesuatu yang ky sebut tujuan untuk hidup yang penuh pergulatan, akan menjadikan ky pantang menyerah. Akan menjadikan ky menyerah jika memang saatnya harus menyerah. Lalu, kenapa harus menjadikan impian itu kalah jika masih ada SPMB??

Ky sudah melewatinya dan kini berjibaku dengan penantian, dengan gundah gulana, meski belum yakin telah benar-benar kalah. Karena dengan perjuangan terbaik yang ky persembahkan malam-malam lalu, ky yakin, DIA telah membungkus cantik imbalan terbaik untuk ky.

Bagaimana jika imbalan itu tidak serupa dengan impian ky ??

Apakah ky cukup kuat memaknai imbalan itu dalam cerita ky agustus nanti ??
Seperti .. apakah ky bs menyematkan tokoh baru dalam cerita yg sudah begitu sempurna??

Mungkin ky tak harus menjanjikan masa depan dengan gurat cerita yang ky sendiri tentukan. Mungkin ky harus bisa menerima, bahwa DIA yang menentukan, walau kadang sesuatu yang akhirnya menjadi penentuan adalah tak serupa dengan apa yang ky sebut impian.

Ikhlas.

Jika saja mewujudkan kata itu semudah menyematkannya dalam eMail ini, ky tidak perlu menengadah pada malam-malam yang lalu atau menyisihkan waktu untuk mengirimkan eMail ini. Ky harus ikhlas apapun imbalanNya nanti dan berlapang hati jika mungkin harus menyematkan tokoh baru itu. Jika semua harus disadari tepat pada waktunya, jika “euforia” tidak menjadi bagian yg harus disesali, tidak akan ada hikmah yang menjadikan ky patut bersyukur.

1 langkah pendewasaan, 1 langkah pendewasaan maju setapak dan ini saatnya ky harus memosisikan bahwa dewasa adalah PROSES, bukan PERNYATAAN.

Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Ky akan menyerah jika saatnya harus menyerah.

I wish I could.*

*** : 3 sandi untuk inisial universitasku.

*eMail yang kutulis untuk kak re**, di saat penantian panjang jelang hasil SPMB 2007 (20.07.2007).

.. gadiskecil (11:14 am) ..

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

my blue saturday nite (11.11.07) ..

Desember 30, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

cause it's you and me and all of the people
with nothing to do nothing to lose
and it's you and me and all of the people
and I don't know why I can't keep my eyes off of you
all of the things that I want to say just aren't coming out right
I'm tripping inwards
you got my head spinning
I don't know where to go from here
life house “you & me”

Kembali .. ia menunjukkan kembali kuasanya.

Ia tahu benar, bahwa sayang itu jauh menjadi lebih congkak dalam hubungan kami, daripada kekurangannya .. atau kekuranganku. Tapi ada saat ketika persepsi perlu disatukan, ada sesuatu yg harus kami benahi, pada diri kami.

Ataukah .. hubungan kami??

“Masalahnya hanya pada waktu.”

“Tapi Yang, aku gak butuh waktu kamu. Aku butuh pengertian .. pemahaman.”

“Tapi pengertian atau pemahaman itu butuh proses. Dan proses itu butuh waktu.”

Hanya begitu. Hanya seperti itu usai sudah apa yang mengacau kebersamaan kami semalam. Ia kemudian berjalan begitu saja menembus jalan gelap. Mungkin dengan hati yg lelah. Mungkin dgn rasa yg layu.

Atau mungkin .. dengan pengertian dan pemahaman yg menanti waktu..??

Aku mulai menyadari, mungkin “pengertian” menjadi barang mewah dalam hubungan kami. Barang mewah yg hanya dapat dibeli oleh “waktu”, sesuatu yg mustahil dapat kami ciptakan sendiri. Mungkin kami masih butuh banyak waktu.. untuk memaknai “sayang” yg kami simpan dalam hati satu sama lain.

what day is it and in what month

this clock never seemed so alive

life house “you & me”

.. gadiskecil (07.23 am) ..   

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

“katanya independen??” (26.12.07) ..

Desember 29, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Selesai juga.

Hebat.. prestasi buat aku. Yahh.. sama halnya dengan blog ini, awalnya aku tergerak untuk membulatkan tekad segera menyelesaikan membaca buku itu karena (lagi2) “desakan” mata kuliah. Dan .. sepertinya aku semakin memahami diriku. Ini bukan kasus pertama seorang aku dapat benar2 menamatkan sebuah tekad karena di bawah tekanan.

First time, sebuah pencapaian yg akan selalu kubanggakan adalah SPMB itu. Akhirnya, aku benar2 bisa menaklukkan universitas itu dengan tekad kerasku untuk lolos di jalur SPMB. Jalur terakhir yg masih berlapang hati menarikku untuk mewujudkan mimpiku kuliah di jurusan komunikasi universitas ternama itu. Yg menarik untuk kubagi, bukan namaku yg jelas2 terpampang di koran pagi itu, tapi “sejarah” pencapaiannya. Aku bisa benar2 mengabaikan hedonisku, hanya belajarshalatbelajarshalat, dan makan jika hanya sudah benar2 terdesak oleh peringatan perut. Aku benar2 merasakan, sebuah ambisi dan ketakutan mampu meluluh-lantakkan seorang aku yg tidak disiplin. Dan yeahh .. Tuhan berpihak pada hambaNya yg tekun berusaha.

Dan lagi, tugas-tugas kuliahku.

Aku cinta menulis. Namun, tidak adanya komputer di ruangan privatku, selalu kujadikan kambing hitam untuk mengkhianati pernyataanku tersebut. Sulit sekali mengenyahkan setan2 di kepalaku kemudian bergegas ke rental untuk menuangkan isi pikiranku menjadi tulisan. Karena kian menit yg harus terbuang dalam perjalanan ke rental itu, kerapkali sukses membekap mood-ku yg awalnya menggebu-gebu untuk menulis.

Berkarya, berkarya, dan berkaryalah.

Itu yg selalu dikoarkan oleh dosen daspenku. Namun apa beliau tahu, ada mahasiswinya yg begitu manja dengan teknologi!? Ya.. ya.. ya.. Aku tau. Gadiskecil sekali, memang. Tapi kalau sudah menyangkut nilai, apa mau dikata. Entah kekuatan dari mana, mau gak mau aku bisa mengendalikan mood. Bukan mood mengendalikan aku, seperti yg awam terjadi padaku.

Dan buku itu, 248 halaman mampu kutuntaskan dalam 1 hari. Dengan catatan, 1 hari itu tidak ada mata kuliah, cucian menumpuk, atau rekan smsan.

Nah, aku baru saja menuliskan kata itu. Smsan, maksudku. Aku sedang dilanda krisis suasana. Merasa kesepian sekali. Inbox ponsel itu tak kunjung menerima sms dari d’one. Aku sangat merindukannya. Tidak penting untuk bertanya mengapa ia tak kunjung menaruh simpatinya pada ponsel kemudian send 1 sms saja untukku, karena.. aku tau ia sedang dilanda banyak masalah. Dan lagi, ia tengah berada bersama kelurganya, egois sekali jika harus meraung2 meminta waktunya.

Tapi .. untukhanyacuma 5 menit saja .. apa tidak bisa!?! Tuh kan, lagi2 suara setan itu bergemuruh di batinku.

Kemarin, seseorang mengingatkan aku ttg jati diriku. Singkat, lugas, namun sukses menancap permanen di pikiranku hingga detik ini. Seseorang itu pernah mengaku mengagumiku, menyukaiku, dan .. standar, kami memang pernah “dekat”. Sebelum akhirnya “memilih” harus menjinakkan perasaanku yang mengambang di antara dua pusaran.

Iwan Fals dalam liriknya, yg konon mewakili kaum adam sedunia, bahwa jangan pernah memilih karena aku (baca:lelaki) bukan pilihan. Tapi, kalau akhirnya memutuskan 1 di antara 2, apa istilahnya jika bukan “memilih”??

Seseorang itu, dalam smsnya, mengingatkan aku. Dia ketik dua kata itu, ”katanya independen??”*

Hmmm .. aku tergagu sesaat. Aku memang pernah mengenakan kata “independen” untuk merepresentasikan diriku dalam sebuah yel-yel konyol di kelas public speaking. Meski teman2 lain berdecak karena kata itu terlalu “canggih” buat mereka, tapi memang kata itu yg kurasa cocok untuk aku.

Aku yg begitu malas untuk tergantung dengan orang lain.

Aku yg begitu alpa bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Aku yg begitu mantap untuk do anything just with myself.

Dalam hal apa?? Berbelanja??

Dua kata dari seseorang itu kemudian menggelitik aku untuk kembali berkontemplasi. Kata terakhir itu entah kenapa serasa dekat denganku saat ini. Kontemplasi, maksudku. Karena kesendirian, kesepian, tidak ada kegiatan, dan berkontemplasi bagiku begitu erat dan berkelindan.

Apa aku masih yakin untuk mengatakan bahwa aku independen?

Apa aku masih “berani” mendefinisikan independen itu??

Kurasa, aku bisa menggunakan banyak waktu senggangku 1 minggu ini untuk mencari jawabannya. Tanpa mata kuliah, cucian menumpuk, atau rekan smsan.

*thx a lot. Utk km, seseorang, yg (lagi2) membuatku terjaga.

.. gadiskecil (07:00 am) .. 

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

hanya seorang gadiskecil (25.12.07) ..

Desember 29, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Lagi2 aku berada pada situasi ini.

Aku bisa menjadi begitu renta, cengeng, sentimentil, entahlah .. meski ketika d’one menanyakan apa masalah itu, pikiranku kembali kelu untuk mencari padanan kata terbaik yang bisa merepresentasikannya.

Aku “kesepian”..

Hmmm .. mengatakan hal itu, tidak semudah jika aku harus mengaku bahwa “Aku lapar” atau “Aku ngantuk”.. tidak. Entah kenapa, di waktu luang yang bergulir kemarin, pikiranku melanglang buana, berkontemplasi hingga mengerucutkan kata2 batinku pada kesimpulan itu. Aku tidak tau persis. Apakah itu kesimpulan, pernyataan, atau sebuah .. pengakuan!?

Aku baru menyadari, seorang diriku tak lebih hanya gadiskecil. Satu fase dalam hidup manusia yg masih lugu menapaki lorong2 kecil, mencari jalan untuk tahu, bertanya, mengerti kemudian memahami. Mereka menilai aku dewasa, mandiri, strong girl, cewek yg kaku, tapi ada ruang kecil di hatiku  yang selalu memaksa menjeblak keluar.

Ada rasa “sepi” di sana.

Ada rasa “takut” di sana.

Ada kerinduan.

Hari Ibu 22 Desember lalu, bener2 mematrikan kerinduan itu. Kapan yaa aku bisa 5 detik saja merasakan keteduhan senyum Ibu padaku. Tidak ingin memakiNya karena Ia begitu pongah menjemput (almh) Ibuku 10 tahun lalu. Tapi, kalau ada yg harus dibinasakan, aku benci untuk masih memiliki ruang kecil di hatiku ini. Baru saja ku pahami, ternyata mereka tidak begitu mengenal aku.  Aku tidak dewasa, mandiri .. aku hanya seorang gadiskecil.

Aku bahkan ingin menjadi Lala.. yang memiliki Ibu Peri.

Aku ingat betul. 3 tahun SMA dulu, aku bisa tegar mengaktualisasikan diriku, dari waktu ke waktu yang bergulir. Tidak peduli terhimpit di antara cewek2 di sekitarku yang berceloteh tentang bagaimana mamanya bawel berbelanja, bagaimana pacarnya mesra memujanya, bagaimana gebetannya sibuk mengejarnya ..aku tidak peduli. Karena ada di balik sana, di balik kehidupan yg kasat mata, aku punya dunia sendiri. Dunia tempat aku melarikan penat dan gundahku, ketika kedua kakiku letih untuk berpijak pada perwujudan mimpi yg selalu urung menjadi kenyataan. Sepenuhnya, kutambatkan keluh kesahku pada dunia ini. Membuat aku merasa aman, meski tidak serta merta aku bisa menunjukkan di mana dunia itu, dunia yang maya, namun tidak menawarkan “ramai” yang sekedar ilusi buatku.

Yahh.. meski hanya dengan bait2 kata di sms kala itu, tanpa pernah menyentuh kenyataan wujud mereka, kak re** dan **da uda bener2 jadi tameng aku. Sejenak atau bahkan untuk waktu yang lama, buat aku tidak mengacuhkan ruang kecil di hatiku itu.

Lalu ..

Apa yg salah saat ini??

Singkat cerita, hidupku (almost) perfect. Aku mahasiswi universitas ternama di jogja, dengan jurusan yg sepenuh hati kuimpikan dan dengan setengah mati kuupayakan lewat jalur SPMB. Kebahagian yg menggerayangi duniaku ketika usai mengerjap puluhan kali akhirnya kutemukan namaku jelas terpampang di koran pengumuman SPMB kala itu, seharusnya abadi melingkupiku hingga detik ini.

Aku bahkan punya d’one yang tak terhitung lagi selalu berujar jelas padaku bahwa dia sangat menyayangi aku. Tulus.

Yeahh ..

Aku bersyukur padaNya aku memiliki d’one yg mencium tanganku ketika aku gamang apakah dengan tangan itu aku masih “berharga”.

Aku bersyukur padaNya aku memiliki d’one yg memelukku erat ketika aku kikuk untuk menghadapi situasi yang enggan berkompromi.

Aku bersyukur padaNya aku memiliki d’one yg membuatku termangu dengan berbagai deskripsinya tentang masa depan kami ketika aku begitu liar untuk melangkah.

Namun, kenapa justru masih ada sesuatu di ruang kecil di hatiku itu??

Ada kehampaan .. ada kekosongan.

Ketika cium, peluk, dan deskripsi2 itu menjauh .. aku menemukan diriku menangis tertahan.

Kemarin, di sudut kamar dengan benda2 yg berserakan .. aku menertawakan diriku. Ternyata aku begitu menakuti “kesendirian” itu. Aku hanya seorang gadiskecil yg belum cukup wibawa untuk memimpin jejaknya sendiri .. sampai kapan??

Mungkin sampai sesuatu di ruang kecil di hatiku itu tak lagi ingin menjeblak keluar. Sesuatu itu ingin aku mendapatkan kasih sayang sejati. Bukan menghampiri, mencari atau memaksa.

Di luar sana, aku yakin ada kasih sayang yg tidak hanya datang dan pergi, tapi sejatinya bisa kumiliki. Meski bukan dari Ibu.. atau ornamen duniawi yg ada di sekitarku saat ini.

.. gadiskecil (06:13 am) ..

→ Tinggalkan KomentarKategori: Uncategorized

gatra di awal cerita (29.12.07) ..

Desember 28, 2007 · 1 Komentar

Aku seonggok jasad,
Dengan rasa karsa pada jiwa yang tak henti menggeliat,
Tercenung di atas biduk bersama sajak-sajak yang senyap,
Indera membekap,
Gerak tingkah laksana hujat pada ramai yang bersedekap,
Hati ini adalah tandu,
Untuk kata-kata yang tercekat dan lapuk dalam bisu,
Kuantarkan pada jemari,
Untuk berkisah apa saja yang berjibaku di relung sanubari.

.. gadiskecil (o6:58 pm) ..

→ 1 CommentKategori: Uncategorized